Harder, Better, Faster, Stronger

Never Give up

47 notes

pidi-baiq:

Aku rasa, ini waktu bagus, untuk denganmu. Mungkin kamu, tak ada waktu hingga kau tak bisa. —- Reff: Lain kali saja, tak mengapa. Lain kali mungkin, kamu bisa — Masa’ aku, memaksa dirimu, selalu denganku. Bukan aku, bila aku ini, memarahimu Reff: Lain kali saja, tak mengapa. Lain kali mungkin, kamu bisa — 

1 note

Mungkin

daminaminor:

Terkapar di sebuah ruang yang dalam (mungkin), bagaimana bisa beranjak.. bangun pun susah.

Menuliskan tekad, semakin di tulis semakin menunjukan kesulitan melaksanakannya.

Dilempari, tapi apa ini? Tak hanya hancur, tapi membekas. Mungkin roda-roda trail lebih tahu, mungkin.

Saat ini mungkin…

1 note

Duhai apakah namanya, bila aku merasa, dilanda bermilyar rasa, saling meronta. Serasa hujan airi, kemarau yang lama, maka tumbuh hidup baru di lembah yang sunyi, sehebat apa pun, dilanda yang ini, mampuslah diriku, musnahlah benakku. Wahai siapakah dirimu, menjinakkan aku, bisa menyebabkan semua, musyrik karenamu. Cara apakah dirimu, pacu jantungku, menempatkan aku pada, rindu melulu. Bagaimanapun engkau kepadaku, tak perlu kutahu, urusan dirimu. Bagaimanapun aku kepadamu tak perlu kau tahu, urusan diriku. Bagaimanapun aku kepadamu, tak perlu kau tahu, uruslah dirinya. Bagaimana pun ia kepadamu, tak perlu kutahu, uruslah dirinya. Ini kupandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tidak dihubungkan dengan keharusan untuk memilikimu

Filed under the panas dalam pidibaiq menahemana

0 notes

Unknown

Manusia, memang selalu seperti itu. Kalimat ataupun hal yg negatif itu mudah sekali ada dalam fikiran dan selalu melekat. Namun kalimat ataupun hal positif cenderung mudah dilupakan atau bahkan terlupakan. Apakah harus seperti itu?